Kerja sama BI-PBOC kembali menjadi sorotan setelah Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC) menandatangani sejumlah kesepakatan strategis di Shanghai pada 11 Juni 2026. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan internasional, serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas ekonomi kedua negara.
Garis Depan Bangsa mencatat bahwa kesepakatan tersebut mencakup penguatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA), perluasan Local Currency Transaction (LCT), pembentukan Renminbi Clearing Arrangement, hingga pengembangan sistem pembayaran digital lintas negara melalui QRIS Cross Border. Berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Kerja Sama BI-PBOC dan Penguatan Rupiah
Kerja sama BI-PBOC menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat pada transaksi perdagangan bilateral. Melalui penguatan BCSA, kedua bank sentral memperluas akses likuiditas dan meningkatkan fleksibilitas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Kesepakatan ini memungkinkan pelaku usaha melakukan transaksi menggunakan rupiah dan renminbi tanpa harus melalui konversi dolar AS terlebih dahulu. Dengan mekanisme tersebut, biaya transaksi dapat ditekan dan risiko fluktuasi nilai tukar dapat diminimalkan.
Nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok pada 2025 mencapai sekitar 154,5 miliar dolar AS. Besarnya volume perdagangan tersebut menjadikan kerja sama BI-PBOC sebagai instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi perdagangan internasional sekaligus memperkuat posisi rupiah.
Selain itu, penguatan kerja sama bank sentral ini juga dinilai mampu memberikan alternatif sistem pembayaran yang lebih beragam. Diversifikasi instrumen transaksi menjadi salah satu strategi yang banyak diterapkan negara-negara berkembang untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi langkah yang diambil BI dan PBOC. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat membantu memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak pasar global.
Baca juga: GMKI Himbau Pemulihan Ekonomi, Ajak Semua Elemen Bangsa Jaga Stabilitas Nasional
Perdagangan Indonesia-Tiongkok Makin Efisien
Salah satu manfaat utama dari kerja sama BI-PBOC adalah meningkatnya efisiensi perdagangan Indonesia-Tiongkok. Penggunaan mata uang lokal secara langsung dapat mengurangi biaya konversi yang selama ini menjadi beban bagi pelaku usaha.
Bagi eksportir dan importir, pengurangan biaya transaksi akan meningkatkan daya saing produk di pasar internasional. Kondisi ini sangat penting mengingat Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Selain mendukung perdagangan internasional, kerja sama ini juga membuka peluang yang lebih besar bagi sektor investasi. Investor dari kedua negara dapat memanfaatkan sistem pembayaran yang lebih efisien untuk mempercepat aktivitas bisnis dan investasi lintas negara.
Keberadaan Renminbi Clearing Arrangement juga menjadi langkah penting dalam mendukung transaksi keuangan antara Indonesia dan Tiongkok. Sistem ini memungkinkan penyelesaian transaksi renminbi dilakukan lebih cepat dan efisien di dalam negeri.
Para pelaku usaha tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sistem pembayaran berbasis dolar AS. Dengan demikian, risiko yang muncul akibat volatilitas mata uang global dapat ditekan secara lebih optimal.
Kerja sama BI-PBOC juga menunjukkan semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok. Hubungan tersebut tidak hanya terbatas pada perdagangan barang, tetapi juga mencakup sektor keuangan, investasi, dan teknologi pembayaran.
Baca juga: Aturan PP 20 Tahun 2026 terhadap Lanskap Perpajakan UMKM di Indonesia
QRIS Lintas Batas Dorong Ekonomi Digital
Aspek lain yang menarik dalam kerja sama BI-PBOC adalah perluasan layanan QRIS lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok. Sistem pembayaran digital ini menjadi salah satu inovasi yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Saat ini, QRIS lintas batas telah menghubungkan 191 penyedia layanan pembayaran di Tiongkok dengan 24 penyedia layanan di Indonesia. Integrasi tersebut memungkinkan wisatawan maupun pelaku usaha melakukan transaksi secara lebih mudah dan cepat.
Bagi sektor pariwisata, kehadiran QRIS lintas batas dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia. Mereka dapat melakukan pembayaran menggunakan aplikasi yang sudah familiar tanpa harus menukarkan uang tunai terlebih dahulu.
Di sisi lain, pelaku UMKM Indonesia juga memperoleh manfaat yang signifikan. Kemudahan menerima pembayaran dari konsumen luar negeri berpotensi meningkatkan penjualan sekaligus memperluas pasar.
Kerja sama BI-PBOC dalam pengembangan sistem pembayaran digital juga mencerminkan transformasi ekonomi yang semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi keuangan. Digitalisasi transaksi menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi dan inklusi keuangan.
Meski demikian, keberhasilan implementasi berbagai kesepakatan tersebut tetap memerlukan dukungan dari pelaku usaha, lembaga keuangan, dan regulator. Sosialisasi serta peningkatan literasi keuangan menjadi kunci agar manfaat kebijakan dapat dirasakan secara luas.
Pada akhirnya, kerja sama BI-PBOC bukan sekadar kesepakatan teknis antara dua bank sentral. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan efisiensi perdagangan Indonesia-Tiongkok, serta mempercepat pengembangan ekonomi digital. Jika implementasinya berjalan optimal, kerja sama ini berpotensi memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan daya saing Indonesia di tingkat global.