BGN Targetkan 5.000 Dapur Terapkan MBG Prasmanan hingga Akhir 2026

MBG prasmanan menjadi model penyajian terbaru yang tengah diuji Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis di sekolah. Hingga akhir 2026, BGN menargetkan sebanyak 1.000 hingga 5.000 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menerapkan sistem tersebut setelah melalui tahap uji coba di berbagai daerah.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mengurangi sisa makanan dan membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Saat ini, puluhan dapur SPPG telah mengikuti uji coba penerapan sistem prasmanan sebagai model distribusi makanan bagi para siswa.

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan bahwa uji coba berlangsung selama dua pekan untuk melihat efektivitas sistem sebelum diperluas secara bertahap ke ribuan dapur di seluruh Indonesia.

MBG Prasmanan Jadi Model Baru Program Makan Bergizi Gratis

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Selama ini makanan dibagikan dalam porsi yang telah ditentukan, sedangkan MBG prasmanan memberikan kesempatan kepada siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan.

Melalui sistem tersebut, siswa dapat memilih menu yang tersedia dengan tetap mengikuti standar gizi yang telah ditetapkan. Jika masih merasa lapar setelah menghabiskan makanan, mereka diperbolehkan menambah porsi sesuai ketersediaan.

Menurut BGN, hasil uji coba menunjukkan makanan yang disajikan melalui sistem prasmanan memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi dibandingkan metode sebelumnya. Sisa makanan menjadi lebih sedikit karena siswa dapat menyesuaikan porsi dengan kemampuan makan masing-masing.

Makanan juga disajikan dalam kondisi lebih hangat karena proses distribusi dilakukan sesaat sebelum jam makan. Kondisi ini dinilai mampu meningkatkan selera makan siswa sehingga makanan lebih banyak dihabiskan.

Keberhasilan uji coba tersebut menjadi dasar BGN untuk memperluas penerapan MBG prasmanan ke lebih banyak dapur SPPG hingga penghujung tahun 2026.

Baca juga: BGN Cut Off Yayasan MBG Nakal, Hak Makan Anak Jadi Prioritas

Manfaat MBG Prasmanan bagi Siswa dan Sekolah

Selain meningkatkan kualitas layanan makan siang bergizi, MBG prasmanan juga dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter di sekolah.

Dalam pelaksanaannya, sekolah dapat mengatur jadwal piket sehingga siswa ikut terlibat membantu proses pelayanan makanan secara bergantian. Kegiatan tersebut tetap berada di bawah pengawasan guru maupun petugas yang bertugas.

Melalui mekanisme itu, siswa belajar berbagai nilai penting, antara lain:

  • Mengantre dengan tertib.
  • Menghargai makanan yang diambil.
  • Bertanggung jawab terhadap tugas bersama.
  • Melayani teman secara bergiliran.
  • Mengurangi kebiasaan membuang makanan.

BGN menegaskan bahwa keterlibatan siswa bukan dimaksudkan menggantikan petugas dapur maupun tenaga pelayanan. Aktivitas tersebut menjadi media pembelajaran karakter sekaligus membangun budaya disiplin di lingkungan sekolah.

Dari sisi sekolah, sistem prasmanan juga dinilai memberikan fleksibilitas dalam pembagian makanan. Guru dapat mengawasi proses makan secara langsung, sementara siswa memperoleh kesempatan memilih porsi yang sesuai sehingga risiko makanan terbuang menjadi lebih kecil.

Konsep ini sejalan dengan tujuan Program Makan Bergizi Gratis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membentuk perilaku hidup sehat sejak usia sekolah.

Baca juga: BGN Ajak BPOM Perketat Pengawasan Program MBG

Target 5.000 Dapur MBG dan Tantangan Implementasi

Saat ini sebanyak 62 dapur SPPG telah mengikuti pilot project penerapan MBG prasmanan di sejumlah daerah. Evaluasi terhadap hasil uji coba menjadi dasar sebelum program diperluas secara nasional.

BGN menargetkan sedikitnya 1.000 dapur hingga maksimal 5.000 dapur dapat menerapkan sistem tersebut sebelum akhir tahun 2026 apabila hasil evaluasi menunjukkan tidak ada kendala berarti.

Meski demikian, perluasan program membutuhkan kesiapan dari berbagai pihak. Tidak hanya dapur penyedia makanan, sekolah juga harus memiliki kesiapan dari sisi fasilitas, sumber daya manusia, hingga mekanisme pelaksanaan.

Karena itu, penerapan MBG prasmanan akan diprioritaskan pada dapur yang dinilai siap serta sekolah yang bersedia mengikuti pola pelayanan baru tersebut. Pendekatan bertahap dipilih agar proses adaptasi berjalan lebih optimal.

Pelatihan kepada pengelola dapur menjadi salah satu fokus utama. Mereka perlu memahami tata cara penyajian makanan secara prasmanan, menjaga keamanan pangan, mengatur antrean distribusi, serta memastikan kualitas makanan tetap terjaga hingga diterima siswa.

Di sisi lain, sekolah juga perlu menyiapkan prosedur operasional agar proses makan berlangsung tertib tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Apabila implementasi berjalan sesuai rencana, MBG prasmanan berpotensi menjadi standar baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Selain meningkatkan efisiensi distribusi makanan, model ini diharapkan mampu mengurangi pemborosan pangan, meningkatkan kepuasan siswa terhadap menu yang disediakan, serta memperkuat pendidikan karakter melalui kebiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap makanan.

Dengan target hingga 5.000 dapur SPPG menerapkan sistem tersebut sebelum akhir 2026, pemerintah berharap kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh jutaan peserta didik di berbagai daerah.

Leave a Comment