Berita viral tentang rumah amblas di Tebet menjadi sorotan publik setelah video CCTV yang memperlihatkan bangunan kontrakan runtuh ke Kali Ciliwung tersebar di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Bangunan yang ambruk diketahui merupakan kontrakan tiga lantai dengan sekitar 15 pintu. Beruntung, saat kejadian rumah tersebut sudah tidak ditempati penyewa sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Anak pemilik bangunan, Istiqomah, mengatakan kontrakan itu memang sudah dikosongkan sejak akhir tahun lalu. Keputusan tersebut diambil karena kondisi bangunan dinilai tidak lagi aman untuk ditinggali.
Perempuan yang akrab dipanggil Komang itu menjelaskan bangunan sudah terlihat miring ke satu sisi. Selain itu, jalan di sekitar lokasi juga mengalami banyak retakan yang semakin membesar.
Ia menilai kondisi tanah di sekitar bangunan sudah tidak stabil. Hal ini membuat keluarga khawatir jika kontrakan tetap dihuni oleh penyewa.
Baca juga: Viral Kasus Nabilah O’Brien, Ini Penjelasan Lengkap Polisi
Rumah Amblas di Tebet, Kontrakan Tiga Lantai Runtuh ke Kali Ciliwung
Peristiwa rumah amblas di Tebet terjadi di kawasan padat penduduk yang berada di bantaran Kali Ciliwung. Lokasi bangunan hanya berjarak satu rumah dari tempat tinggal keluarga pemilik.
Saat kejadian, orang tua Komang dan anggota keluarga lain sedang berada di rumah mereka. Jarak yang cukup dekat membuat mereka sempat mendengar suara runtuhan dari arah rumah amblas.
Namun, karena bangunan sudah kosong, tidak ada penghuni yang menjadi korban. Keluarga pemilik pun mengaku bersyukur karena peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Kontrakan yang berdiri sejak sekitar tahun 1980-an itu selama bertahun-tahun menjadi salah satu aset keluarga. Bangunan tersebut sebelumnya disewakan kepada masyarakat sekitar.
Meski kini rumah amblas hanya tersisa puing-puing, keluarga pemilik mengaku ikhlas menerima kejadian tersebut. Mereka menilai bangunan itu memang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius.
Tanda-tanda Kerusakan Sudah Terlihat Sebelum Longsor
Dikutip dari Detik, Komang mengungkapkan bahwa sebelum rumah amblas di tebet, sering terdengar suara aneh dari dalam bangunan. Suara tersebut terdengar seperti paku yang terlepas atau seng yang bergeser.
Menurutnya, suara itu muncul sejak sekitar satu minggu sebelum bangunan runtuh. Bunyi tersebut terdengar meski tidak sedang turun hujan.
Ia menggambarkan suara itu seperti bunyi “krekek” yang muncul dari bagian bangunan. Meski demikian, tidak terlihat ada bagian bangunan yang langsung jatuh saat suara itu terdengar.
Kondisi ini membuat keluarga semakin khawatir terhadap keamanan kontrakan tersebut. Mereka pun mulai mempertimbangkan langkah perbaikan.
Komang mengatakan sebenarnya keluarga sudah berencana melakukan renovasi. Namun rencana tersebut belum sempat dilakukan karena berbagai pertimbangan keselamatan.
Hujan Deras Diduga Memperparah Kondisi Tanah
Salah satu faktor yang diduga memperparah kondisi bangunan hingga rumah amblas adalah hujan yang terus turun dalam beberapa waktu terakhir. Air hujan masuk melalui retakan jalan di sekitar lokasi.
Menurut Komang, air yang masuk melalui celah tersebut membuat tanah di bawah bangunan menjadi lunak. Kondisi ini diduga menyebabkan tanah perlahan terkikis hingga akhirnya longsor.
Ia juga mengungkapkan bahwa keluarga sebenarnya berencana menutup retakan pada jalan tersebut. Namun pekerjaan itu tertunda karena cuaca yang tidak memungkinkan.
Selain itu, keluarga juga tidak mengetahui kondisi bagian bawah tanah secara pasti. Mereka khawatir tanah di bawah bangunan sudah terkikis dan menjadi kopong.
Ketidakpastian kondisi tanah tersebut membuat proses perbaikan menjadi sulit dilakukan. Akhirnya, longsor terjadi sebelum rencana perbaikan sempat terealisasi.
Komang juga mengungkapkan bahwa kawasan tersebut memang pernah mengalami kejadian serupa. Sekitar satu minggu sebelumnya, kamar di rumah adiknya juga mengalami kerusakan akibat longsor.
Peristiwa tersebut terjadi di dalam gang sehingga tidak terekam kamera CCTV. Namun kerusakan pada kamar itu menjadi salah satu tanda bahwa kondisi tanah di wilayah tersebut mulai bermasalah.
Melihat kondisi itu, keluarga sempat mendapat saran dari tetangga untuk merobohkan kontrakan. Namun langkah tersebut dianggap terlalu berisiko bagi para pekerja.
Mereka khawatir proses pembongkaran justru menambah beban pada tanah yang sudah tidak stabil. Selain itu, keselamatan tukang yang melakukan pekerjaan juga menjadi pertimbangan.
Kini bangunan kontrakan tersebut sudah berubah menjadi puing-puing di bantaran Kali Ciliwung. Keluarga pemilik memilih menerima kejadian itu dan fokus memastikan keselamatan rumah mereka yang masih berdiri di dekat lokasi.