Perkiraan Lebaran 2026: Prediksi Idul Fitri 1447 H Versi BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU

Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti-nanti oleh umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Menjelang akhir Ramadan, masyarakat mulai mencari informasi mengenai perkiraan lebaran untuk mengetahui kapan 1 Syawal 1447 Hijriah akan dirayakan.

Di Indonesia, penentuan tanggal Lebaran biasanya menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat, meskipun sejumlah lembaga dan organisasi Islam telah menyampaikan prediksi awal berdasarkan metode masing-masing.

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah membuat perkiraan lebaran di Indonesia terkadang memiliki lebih dari satu kemungkinan tanggal. Sebagian pihak menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara yang lain mengombinasikan hisab dengan rukyat atau pengamatan hilal. Karena itu, masyarakat perlu memahami berbagai prediksi yang muncul sebelum keputusan resmi diumumkan.

Baca juga: Mudik Gratis 2026: Ahmad Luthfi Lepas 325 Bus Pemudik Warga Jawa Tengah dari TMII

Perkiraan Lebaran 2026 Berdasarkan Perhitungan Astronomi

Beberapa lembaga ilmiah di Indonesia telah merilis perkiraan lebaran 2026 berdasarkan analisis astronomi terhadap posisi hilal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa konjungsi atau ijtimak menjelang Syawal 1447 H diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB.

Konjungsi merupakan peristiwa ketika posisi bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama jika dilihat dari pusat Bumi. Peristiwa ini menandai fase bulan baru yang menjadi dasar perhitungan awal bulan dalam kalender Hijriah.

Berdasarkan data BMKG, posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di Indonesia masih tergolong rendah. Ketinggian hilal diperkirakan berada di kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sementara elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari berada di kisaran 4,54 derajat hingga 6,1 derajat.

Dengan kondisi tersebut, para ahli memperkirakan hilal kemungkinan sulit terlihat di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, perkiraan lebaran menurut analisis BMKG berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi serupa juga disampaikan oleh peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin. Berdasarkan analisis astronomi yang menggunakan kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), hilal pada 19 Maret diperkirakan belum memenuhi syarat.

Kriteria MABIMS menetapkan bahwa awal bulan Hijriah dapat dimulai jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Jika syarat ini belum terpenuhi, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga perkiraan lebaran jatuh pada 21 Maret 2026.

Penetapan Lebaran Versi Muhammadiyah

Berbeda dengan pendekatan rukyat yang digunakan pemerintah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggunakan metode hisab untuk menentukan awal bulan Hijriah. Melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, organisasi ini telah menetapkan tanggal Idul Fitri jauh sebelum Ramadan dimulai.

Dalam maklumat tersebut disebutkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23 UTC. Berdasarkan perhitungan astronomi menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal, posisi bulan sudah memenuhi parameter yang ditetapkan.

Parameter tersebut mensyaratkan tinggi bulan lebih dari 5 derajat serta elongasi minimal 8 derajat di wilayah tertentu di dunia. Karena syarat tersebut terpenuhi, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Dengan demikian, perkiraan lebaran menurut Muhammadiyah berpotensi berbeda satu hari dibandingkan prediksi yang menggunakan kriteria MABIMS. Perbedaan ini bukan hal baru di Indonesia karena masing-masing organisasi memiliki metode perhitungan yang berbeda.

Penentuan Lebaran oleh Pemerintah dan NU

Sementara itu, pemerintah Indonesia akan menetapkan tanggal resmi Idul Fitri melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama pada 19 Maret 2026. Sidang tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar astronomi, perwakilan ormas Islam, hingga lembaga pengamatan hilal.

Proses penentuan tanggal Lebaran dilakukan dengan menggabungkan data hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia. Jika hilal terlihat pada 19 Maret, maka 1 Syawal dapat ditetapkan pada 20 Maret. Namun jika hilal tidak terlihat, Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.

Dalam Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, perkiraan lebaran tercatat jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Perkiraan tersebut juga sejalan dengan perhitungan yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang mengacu pada kriteria MABIMS.

Meskipun demikian, keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat yang mempertimbangkan seluruh data astronomi dan hasil pengamatan hilal. Sidang ini biasanya dilakukan secara terbuka dan diumumkan kepada publik pada malam hari setelah proses verifikasi selesai.

Dengan adanya berbagai metode yang digunakan, masyarakat Indonesia memiliki dua kemungkinan tanggal Idul Fitri 1447 H, yakni 20 atau 21 Maret 2026. Apa pun hasil akhirnya, perkiraan lebaran tersebut tetap menjadi informasi penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan mudik, silaturahmi, dan perayaan hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.

Leave a Comment